TEORI KOMUNIKASI KONTEMPORER
Komunikasi merupakan hal yang pasti dilakukan oleh manusia dalam
kehidupannya, demikian juga dengan hewan. Komunikasi merupakan salah satu
kebutuhan pokok manusia dalam menjalani kehidupannya. Bahkan seorang bayi pun
sudah dapat melakukan komunikasi, seperti ketika ia menangis itu bsia jadi
menandakan bahwa ia sedang lapar atau tidak nyaman. Maka jelaslah bahwa
komunikasi adalah hal penting yang harus dipelajari dan dipahamai. Studi komunikasi dewasa ini telah banyak melahirkan berbagai macam
teori yang masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Ada
banyak teori entang komunikasi. Berdasarkan kurun waktu dan pemahaman atas
makna komunikasi, teori komunikasi semakin hari berkembang seiring
berkembangnya teknologi informasi yang memakai komunikasi sebagai fokus
kajiannya. Teori komunikasi kontemporer yang merupakan perkembangan dari teori
komunikasi klasik melihat fenomena komunikasi tidak fragmatis. Artinya,
komunikasi dipandang sebagai sesuatu yang kompleks, tidak sesederhana yang
dipahami dalam teori komunikasi kontemporer saat sekarang ini
Teori Komunikasi
Kontemporer
Komunikasi kontemporer berasal dari
2 suku kata, yaitu komunikasi dan kontemporer. Secara harfiah, komunikasi
berasal dari bahasa latin, “communis” yaitu membangun kebersamaan antara 2
orang atau lebih. Secara ilmiah, komunikasi berasal dari kata “to communicate”
artinya upaya untuk membuat pendapat, menyatakan perasaan,menyatakan perasaan,
menyampaikan informasi agar diketahui/dipahami oleh orang lain. Kata
kontemporer yang berasal dari kata “co” yang artinya bersama dan “tempo” yaitu
waktu. Jadi menurut kata, kontemporer adalah waktu bersamaan. Secara umum,
kontemporer artinya, kekinian, modern, atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama
dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi, komunikasi kontemporer
adalah perkembangan komunikasi yang terpengaruh oleh dampak modernisasi.
Komunikasi kontemporer sering diidentik dengan Komunikasi Virtual, komunikasi
virtual adalah proses penyampaian pesan yang dikirimkan melalui internet atau
cyberspace. Komunikasi yang dipahami sebagai virtual reality pada ruang lingkup
alam maya dengan menggunakan internet. Komunikasi kontemporer sebenarnya
dilakukan dengan cara representasi informasi digital yang bersifat diskrit.
Internet merupakan media komunikasi yang sangat efektif bagi umat manusia di
dunia.
Alat-alat
Komunikasi Kontemporer
Adapun
alat-alat komunikasi kontemporer, atau alat komunikasi masa kini, diantaranya:
1.
Telepon:
Telepon termasuk alat komunikasi yang digolongkan modern. Karena sudah
menggunakan teknologi yang cukup canggih. Antar kota, negara sudah bisa saling
berkomunikasi melalui telepon dengan cepat
2.
Handphone
atau telepon genggam adalah sebuah terobosan dalam komunikasi masyarakat
modern. Di mana orang bisa saling berkomunikasi dimana saja, asal ada sinyal
yang menghubungkan. Saat ini sudah banyak merk-merk terkenal yang memproduksi
handphone, dan meluncurkan beraneka ragam jenis handphone.
3.
Koran:
Media yang satu ni menjadi media atau alat komunikasi modern yang punya
kegunaan sebagai alat komunikasi, penyampaian pesan atau iklan sebuah usaha
atau perusahaan. Selain itu, koran selalu memberitakan informasi atau kejadian
yang berhubungan dengan sosial, budaya, hukum, politik, teknologi dan masih
banyak lagi. Seiring dengan berkembangnya teknologi, peran koran bukan hanya
dibaca dalam bentuk cetak, kini kiran versi digital sudah banyak ditemukan
diinternet.
4. Televisi: Televisi menjadi media komunikasi kontemporer yang sekarang hampir setiap rumah memiliki televisi. Dengan adanya televisi, banyak orang bisa mengetahui informasi berita dan bisa menonton tayangan lain yang memberikan aspek edukasu atau hiburan. Televisi juga sebagai sarana membangun kebersamaan antar keluarga di rumah.
Paradigma Komunikasi Kontemporer
Istilah paradigma
berasal dari Thomas kuhn (1970, 1974)1 , yang di gunakan tidak kurang dari 21
cara yang berbeda. Namun Robert Fredrichs (1970) berhasil merumuskan paradigma
itu secara jelas sebagai suatu pandanagn mendasar dari suatu disiplin ilmu
teantang apa yang menjadi pokok persoalan (subyek matter) yang semestinya
dipelajari. Kuhn melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadi
secara kumulatif, tetapi terjadi secara revolutif. Dalam masa tertentu ilmu
sosial di dominasi oleh suatu paradigma. Kemudian terjadi pergantian dominasi
paradigma, dari paradigma lama yang memudar kepada paradigma baru. Dalam hal
ini paradigma baru bukanlah kelanjutan dari paradigma lama. Dilihat dari
beberapa paradigma yang selama ini berkembang AS. Hikam menjelaskan perjalanan
paradigma dibagi menjadi tiga bagian.
1.
Pertama,
Paradigma Positivisme-empiris oleh penganut aliran ini bahasa dipandang sebagai
jembatan antara manusia dengan obyek diluar dirinya. Salah satu ciri dari
paradigma ini adalah pemisahan antara pemikiran dengan realitas. Dalam
kaitannya dengan analisis wacana konsekuensi logis dari pemikiran ini adalah
orang tidak perlu mengetahui maknamakna subyektif atau nilai yang mendasari
pernyataannya sebab yang terpenting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan
secara benar menurut kaidah sintaksis dan semantic
2.
Kedua
adalah paradigma Konstruktivisme. Paradigma ini banyak dipengaruhi oleh
pandangan fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan empirisme yang memisahkan
subyek dan obyek bahasa. Dalam pandangan paradigma ini bahasa tidak lagi hanya
dilihat sebagai alat untuk memahami realitas obyektif belaka dan yang
dipisahkan dari subyek sebagai penyampai pernyataan. Konstruktivisme justru
menganggap subyek sebagi faktor sentral dalam kegiatan wacana serta
hubungan-hubungan sosialnya.
3.
Ketiga
adalah Paradigma Kritis. Paradigma ini hanya sebatas memenuhi kekurangan yang
ada dalam paradigma konstruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi
dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Seperti
ditulis AS. Hikam paradigma Konstruktivisme masih belum menganalisa
faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana yang pada
gilirannya berperan sebagai pembentuk jenis-jenis subyek tertentu berikut
perilakuperilakunya. Paradigma ini bersumber pada pemikiran Frankfurt School, yang
berusaha mengkritisi pandangan konstruktivis. Ia bersumber dari gagasan Marx
dan Hegel jauh sebelum sekolah Frankfurt berdiri.
Komentar
Posting Komentar